Selasa, 11 November 2014

Multiple Intelligence dan Tarian berdendang Bhagavad Gita,



Sudahkah Sistem Pendidikan (Benar-Benar) Mendorong Peserta Didik untuk Menari?

      Media pendidikan sudah sedemikian canggih, dan fakta yang mudah terakses kian berlimpah. Berbagai teori dan visi merelatifkan dan mengguncang sebagian besar (bila bukan semua) fondasi bangunan pengetahuan. Pertanyaannya mengapa pendidikan masih saja berkutat pada ranah pencarian fakta dan metoda penemuan kebenaran? Bahkan pendidikan kejuruan (yang katanya menjanjikan ke-profesionalitas-an) masih saja terpaku pada (lebih menonjolkan) fakta-fakta baku dan teknik operasional standar yang membekukan cara berpikir dan bertindak para siswanya?
 Mengapa sistem pendidikan masih enggan meninggalkan landasan baku aspek tunggal (dominan) ke-kognitifan-nya? Bukankah bukti terkini dan tercanggih sudah secara gamblang dan tegas mendukung aksioma praktis bahwa aspek pergerakan, perubahan dan kedinamisan menjadi satu-satunya ketetapan yang harus lebih ditonjolkan di segenap ranah kehidupan? Mengapa filosofi kehidupan yang sedemikian kritis dan krusial ini tetap saja terabaikan? Mengapa dunia pendidikan masih saja asyik dalam keterpakuannya pada satuan-satuan ruang dan waktu baku alih-alih pada dinamika pergerakan atau aspek gerak tarian-nya? Mengapa dalam dunia pendidikan masih saja memilah-milah pendidikan teoritis dan praktis? Bukankah pemilahan seperti itu mengasumsikan bahwa dunia pendidikan masih terpaku pada model satuan beku “Newtonian” alih-alih model relativitas “Einsteinian”? Apakah pendidikan sosial masih saja enggan berpaling dari model satuan beku Newtonian, yang bahkan sudah mulai dikesampingkan dalam dunia pendidikan teknik (fisika modern) itu sendiri (khususnya untuk masalah yang menyangkut asas dasar kesemestaan). Celakanya lagi, di negeri kita tercinta ini justeru model tradisional tersebut yang lebih ditonjolkan.
      Lebih memprihatinkan lagi, kebekuan sistem pendidikan itu ditunjang oleh teori-teori psikologi yang lebih menitik beratkan satuan atau kebertetapan semu seperti teori tentang IQ (teori kecerdasan tunggal). Mungkin bidang psikometrika masih kelimpungan untuk dapat mengadaptasi model-model relativitas yang lebih canggih, meskipun teorinya (khususnya psikoanalisa dan berbagai psikologi alternatif lain) sudah mampu mensejajarkan diri atau bahkan melampaui model-model relativitas landasan kesemestaan seperti itu. Konsep IQ, EQ dan SQ mungkin harus segera kita tanggalkan, karena konsep seperti itu masih bersandar pada asumsi dasar teori “butir /identitas (massa) terkecil” alih-alih asumsi perubahan gerak energi. Konsep kecerdasan yang lebih relevan mungkin konsep kecerdasan yang bersifat majemuk, cair, yang  bersifat memetakan (alih-alih mengukur) pergerakan dan pengalokasian berbagai daya yang sifat keberpenentuan-nya (dominasian-nya) senantiasa berubah. Itu bila psikologi ingin tetap konsisten dan setia dengan bidang fisika-biologi yang sejak awal jadi panutannya.
      Mengapa sistem pendidikan tak juga beranjak ke ranah tarian? Mungkin penghalang atau tantangan utama ada pada sifat radikalitas dan holistis yang terkandung dalam tuntutan perubahannya itu sendiri. Karena sistem pendidikan harus mengubah berbagai patok dasar kerja lamanya, seperti kriteria keunggulan/penguasaan harus diganti jadi kesiapan, pengukuran jadi pemetaan, pengajar jadi fasilitator, keberpusatan pada laboratorium/perpustakan jadi keberpusatan pada strategi penguasaan media informasi dan pada penguasaan realitas kancah, satuan waktu jadi satuan penguasaan pada permasalahan (SKS yang berorientasi waktu jadi berorientasi ke permasalahan/pergerakan), sistim ranking (pemeringkatan) yang berpusat pada keunggulan jadi pemeringkatan yang berpusat pada kesiapan atau hasil produk di tiap permasalahan/bidang kerja/pergerakan, patok prestasi individual jadi patok prestasi keberelasian dalam kelompok (penunjang utama pada kesiapan), dsb.
      Selain perubahan juga dituntut perluasan makna dalam berbagai aspek, seperti membaca tak hanya sebatas membaca buku/pustaka melainkan juga membaca informasi dan berbagai aspek keberelasian dalam hidup (kepekaan), makna teoritis jadi mencakup keluasan dan kedalaman visi serta kepekaan berkomunikasi, standardisasi meliput berbagai faktor kesiapan minimal lainnya. Mungkin penyampaian hukuman pun harus diubah, tidak lagi dengan bentakan melainkan melalui musik rap (Bukankah anak-anak remaja kini lebih mengapresiasi nasihat/saran lewat musik rap?)
      Tantangan kedua yang tak kalah beratnya adalah birokrasi pendidikan itu sendiri. Birokrasi model kepamongprajaan (kepemerintahan) yang masih mendominasi dunia pendidikan harus direvolusi menjadi fasilitator pemerintah penunjang kesiapan peserta didik. Artinya, sebagai fasilitator mereka harus punya kemampuan untuk mengakses dan menyediakan berbagai informasi dan mampu berkomunikasi serta memotivasi visi peserta didik. Implikasi lanjutannya adalah bahwa para fasilitator pemerintah ini harus berpatok pada kecepatan layanan yang karenanya harus mampu bersikap serta bertindak secara aktif.
      Tak mudah memang beralih ke paradigma yang baru, namun realitas global menuntut kita semua untuk (secara bersama-sama) mulai melangkah ke arah itu. Revolusi mental jadi momen penting untuk langkah awal pendidikan kita ke arah paradigma baru. Paradigma tarian Syiwa. Paradigma kemajemukan, kesiapan dan perubahan! Langkah awal yang akan menentukan nasib anak cucu kita dalam kancah tarian global. Tarian yang diiringi dendang Bhagavad Gita…

Tulisan ini terinspirasi dari karya Fritjof Capra (The Tao of Physics ) 
#iisavisiwaskita  #soalsial #revolusimental  #multipleintelligences