Sudahkah Sistem Pendidikan (Benar-Benar) Mendorong Peserta Didik untuk
Menari?
Media pendidikan sudah
sedemikian canggih, dan fakta yang mudah terakses kian berlimpah. Berbagai
teori dan visi merelatifkan dan mengguncang sebagian besar (bila bukan semua)
fondasi bangunan pengetahuan. Pertanyaannya mengapa pendidikan masih saja
berkutat pada ranah pencarian fakta dan metoda penemuan kebenaran? Bahkan
pendidikan kejuruan (yang katanya menjanjikan ke-profesionalitas-an) masih saja
terpaku pada (lebih menonjolkan) fakta-fakta baku dan teknik operasional
standar yang membekukan cara berpikir dan bertindak para siswanya?
Mengapa
sistem pendidikan masih enggan meninggalkan landasan baku aspek tunggal
(dominan) ke-kognitifan-nya? Bukankah bukti terkini dan tercanggih sudah secara
gamblang dan tegas mendukung aksioma praktis bahwa aspek pergerakan, perubahan
dan kedinamisan menjadi satu-satunya ketetapan yang harus lebih ditonjolkan di
segenap ranah kehidupan? Mengapa filosofi kehidupan yang sedemikian kritis dan
krusial ini tetap saja terabaikan? Mengapa dunia pendidikan masih saja asyik
dalam keterpakuannya pada satuan-satuan ruang dan waktu baku alih-alih pada
dinamika pergerakan atau aspek gerak tarian-nya? Mengapa dalam dunia pendidikan
masih saja memilah-milah pendidikan teoritis dan praktis? Bukankah pemilahan
seperti itu mengasumsikan bahwa dunia pendidikan masih terpaku pada model
satuan beku “Newtonian” alih-alih model relativitas “Einsteinian”? Apakah
pendidikan sosial masih saja enggan berpaling dari model satuan beku Newtonian,
yang bahkan sudah mulai dikesampingkan dalam dunia pendidikan teknik (fisika
modern) itu sendiri (khususnya untuk masalah yang menyangkut asas dasar
kesemestaan). Celakanya lagi, di negeri kita tercinta ini justeru model
tradisional tersebut yang lebih ditonjolkan.
Lebih memprihatinkan lagi,
kebekuan sistem pendidikan itu ditunjang oleh teori-teori psikologi yang lebih
menitik beratkan satuan atau kebertetapan semu seperti teori tentang IQ (teori
kecerdasan tunggal). Mungkin bidang psikometrika masih kelimpungan untuk dapat
mengadaptasi model-model relativitas yang lebih canggih, meskipun teorinya
(khususnya psikoanalisa dan berbagai psikologi alternatif lain) sudah mampu
mensejajarkan diri atau bahkan melampaui model-model relativitas landasan
kesemestaan seperti itu. Konsep IQ, EQ dan SQ mungkin harus segera kita
tanggalkan, karena konsep seperti itu masih bersandar pada asumsi dasar teori
“butir /identitas (massa) terkecil” alih-alih asumsi perubahan gerak energi.
Konsep kecerdasan yang lebih relevan mungkin konsep kecerdasan yang bersifat
majemuk, cair, yang bersifat memetakan
(alih-alih mengukur) pergerakan dan pengalokasian berbagai daya yang sifat
keberpenentuan-nya (dominasian-nya) senantiasa berubah. Itu bila psikologi
ingin tetap konsisten dan setia dengan bidang fisika-biologi yang sejak awal
jadi panutannya.
Mengapa sistem pendidikan tak
juga beranjak ke ranah tarian? Mungkin penghalang atau tantangan utama ada pada
sifat radikalitas dan holistis yang terkandung dalam tuntutan perubahannya itu
sendiri. Karena sistem pendidikan harus mengubah berbagai patok dasar kerja
lamanya, seperti kriteria keunggulan/penguasaan harus diganti jadi kesiapan,
pengukuran jadi pemetaan, pengajar jadi fasilitator, keberpusatan pada
laboratorium/perpustakan jadi keberpusatan pada strategi penguasaan media
informasi dan pada penguasaan realitas kancah, satuan waktu jadi satuan penguasaan
pada permasalahan (SKS yang berorientasi waktu jadi berorientasi ke
permasalahan/pergerakan), sistim ranking (pemeringkatan) yang berpusat pada
keunggulan jadi pemeringkatan yang berpusat pada kesiapan atau hasil produk di
tiap permasalahan/bidang kerja/pergerakan, patok prestasi individual jadi patok
prestasi keberelasian dalam kelompok (penunjang utama pada kesiapan), dsb.
Selain perubahan juga
dituntut perluasan makna dalam berbagai aspek, seperti membaca tak hanya sebatas
membaca buku/pustaka melainkan juga membaca informasi dan berbagai aspek
keberelasian dalam hidup (kepekaan), makna teoritis jadi mencakup keluasan dan
kedalaman visi serta kepekaan berkomunikasi, standardisasi meliput berbagai
faktor kesiapan minimal lainnya. Mungkin penyampaian hukuman pun harus diubah,
tidak lagi dengan bentakan melainkan melalui musik rap (Bukankah anak-anak
remaja kini lebih mengapresiasi nasihat/saran lewat musik rap?)
Tantangan kedua yang tak
kalah beratnya adalah birokrasi pendidikan itu sendiri. Birokrasi model
kepamongprajaan (kepemerintahan) yang masih mendominasi dunia pendidikan harus
direvolusi menjadi fasilitator pemerintah penunjang kesiapan peserta didik. Artinya,
sebagai fasilitator mereka harus punya kemampuan untuk mengakses dan
menyediakan berbagai informasi dan mampu berkomunikasi serta memotivasi visi peserta
didik. Implikasi lanjutannya adalah bahwa para fasilitator pemerintah ini harus
berpatok pada kecepatan layanan yang karenanya harus mampu bersikap serta
bertindak secara aktif.
Tak mudah memang beralih ke
paradigma yang baru, namun realitas global menuntut kita semua untuk (secara
bersama-sama) mulai melangkah ke arah itu. Revolusi mental jadi momen penting
untuk langkah awal pendidikan kita ke arah paradigma baru. Paradigma tarian
Syiwa. Paradigma kemajemukan, kesiapan dan perubahan! Langkah awal yang akan
menentukan nasib anak cucu kita dalam kancah tarian global. Tarian yang diiringi
dendang Bhagavad Gita…
Tulisan ini terinspirasi dari karya Fritjof Capra (The Tao of Physics )
#iisavisiwaskita #soalsial #revolusimental
#multipleintelligences