Jumat, 24 Oktober 2014

“JOMBLOWERS” LE MONDE ARE MULTI INTELLIGENCE JOMBLOWERS…!



Banyaknya celoteh miring tentang jomblower di media sosial (baik yang  berformat humor maupun yang sangat religius, dari yang kocak hingga yang melecehkan) menggelitik saya untuk sekedar  “urun rembug”.

Bagi saya pribadi, status jomblower itu fakta kondisi hidup yang harus kita sikapi dengan bijak, karena setiap “kasunyatan” memang harus “dihayati” dan “diamalkan”  setelah “dikaji” secara seksama.  Lepas dari berbagai lekatan (atribusi) “duniawi” yang cenderung kian memperumit peta jalan yang sudah amat “complicated” ini. Selain itu saya tak hendak menyoroti  atau menilai kejombloan dari sudut-sudut moralitas keagamaan sempit, karena saya tak sedang mendukung atau menolak status kejombloan. Saya sekedar ingin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang yang bersumber dari pencerahan konsep multi intelligences alih-alih single intelligence. Pembacaan peta diri yang lebih holistis, majemuk dan konkrit lawan patok abstraksi tunggal yang reduktif. *)

Bila kita hanya berpatok pada cara baca tunggal selera massa, maka tak akan muncul surat kabar Le Monde  yang demikian melegendaris di negeri asalnya (Perancis). Ketika sebagian besar media pekabaran terbit sedini mungkin untuk mencapai keunggulan pemberitaan tercepat dan teraktual, Le Monde justru memilih untuk menunda terbit hingga menjelang sore hari. Dengan cara ini, Le Monde tak sekedar memberitakan kecamuk konflik kekinian, tapi juga mengulas secara lebih unik. Keunikan ini dimungkinkan karena  Le Monde berhasil “mengintip” tren masa depan (untuk lebih memberi nuansa penulisan berita aktualnya). **)

Jomblowers Le Monde adalah jomblowers yang punya kepercayaan penuh pada apa yang diisyaratkan melalui kata-kata emas psikoanalis Lacan, “ A letter always reaches its destination”. Dengan kesabaran dan keyakinannya itu, ia menunda untuk dapat memetakan dirinya secara lebih akurat dan memberikan hasil yang lebih cemerlang seturut kelemahan dan keunggulannya. Dalam penundaan dan kebebasannya (yang tak dipengaruhi oleh unsur eksternalitas apapun) ia akan mampu menemukan kebenaran dalam puncak kegagalannya. Jomblowers Le Monde itu bak Bhisma di cerita pewayangan India. Ia yang dapat menunda kematian sekehendak bebasnya….

Sikap jomblowers Le Monde pun dapat dijadikan cermin bagi para politisi yang tenggelam dalam carut marut kepentingan sesaat. Mereka yang sama sekali tak hendak membaca makna penundaan akan kandas dalam ke-tidakrasionalitasan-nya sendiri. Mereka yang meradikalkan kebenaran adalah budak-budak irasionalitasnya sendiri.

Lembaga-lembaga konsultasi perkawinan pun sebaiknya mulai mencermati strategi ini.Tak hanya berkutat pada keutuhan perkawinan, melainkan juga harus mempertimbangkan keutuhan atau keberhasilan yang lebih cemerlang dari nasib kebersamaan mereka. Kebenaran dari kegagalan perjalanan mereka, karena bagaimanapun kegagalan mengandaikan keberhasilan…. A letter always reaches its destination” (Lacan).

(xi..xi..xi ..komentar saya buat perindu jomblowers: Ratih Puspa)

#SOALSIAL  #MULTI INTELLIGENCES  #RATIHPUSPA 

 
*) Menurut sejarahnya, konsep single intelligence memang muncul dari ranah kemiliteran atau kecendikiaan yang berpegang teguh pada sikap/keyakinan/asumsian hirarkis, serba ketat dan serba tunggal. Masa kelahirannya pun adalah masa dimana psikologi masih bersifat amat individualistis (masih belum tersentuh oleh pendekatan social).  Tujuan utamanya adalah capaian kemenangan (penaklukan) dengan prioritas identifikasian faktor tunggal penentu keunggulan ( dengan mengorbankan semua atribut liyan yang dalam situasi itu diasumsikan sebagai hal kurang penting). Penerapan konsep single intelligence tersebut ke ranah yang lebih luas, majemuk  (publik) dan cair tentunya jadi tidak relevan dan menimbulkan dampak politisasi yang luar biasa.

**) Pematik gagasan Le Monde bersumber dari ajaran filsuf Hegel, yang menginspirasi cara tanggap sebagian besar psikoanalis. Penundaan yang memberi pencerahan, kesabaran yang membuka kepenuhan diri klien ketika ia dihadapkan langsung pada kegagalan dari ketidakkonsistenannya sendiri. Keberhasilan yang mensyaratkan kegagalan, karena setiap totalitas makna akan senantiasa terganggu oleh simptomnya sendiri. (Zizek, Slavoj.The Cunning of Reason: Lacan as a Reader of Hegel,p.4)

Selasa, 21 Oktober 2014

“Multiple Intelligences Mapping” sebagai Peredam Dampak Politisasi Hasrat Sosial

Dalam era “eksploitasi kognitif” ini, upaya untuk memenangkan “persaingan produk” tidak lagi cukup hanya dengan “eksploitasi hasrat individu” melainkan sudah menjarah hingga taraf “akumulasi hasrat sosial” (Matteo Pasquinelly, Prototypes of Conflict within Cognitive Capitalism, hal.1).

Demi pencapaian tujuan akumulasi tersebut,  yang penting untuk dilakukan adalah pergeseran tekanan pada obyek analisis, dan juga pada pendekatan/disiplin-nya. Yang semula, eksploitasinya terpusat di ranah hasrat individual, dan lebih menonjolkan disiplin keperilakuan, karakteristik/ keunikan/ keunggulan perorangan yang ditopang oleh aspek keberilmuan; kemudian bergeser ke akumulai hasrat sosial yang  lebih menonjolkan trik-trik imitasi, dan karakteristik/ keunikan/ keunggulan politisasi sosial. Singkatnya obyek dan strateginya kian cair. Dari yang lebih stabil ke yang lebih fluktuatif, dari yang serba singular ke yang serba multiple.

Terpaan politisasi hasrat sosial yang kian “menggila”, seturut persaingan yang kian sengit dalam hal “eksploitasi produk kognitif” (bahkan sampai pada perekayasaan “konflik sosial” demi capaian keterpikatan sosial sesaat) dengan cepat meng-usang-kan cara-cara atau keyakinan lama tentang berbagai ukuran prediksi kapabilitas seseorang. Celakanya, berbagai hasil pengukuran kapabilitas individu bahkan rentan untuk dijadikan semacam alat atau sarana politisasi (hasrat sosial) yang ampuh dan menindas alih-alih sebagai alat diagnostik yang memberdayakan. 
 
Langkah penting pertama yang harus diambil adalah mengubah konsep prediksi menjadi pemetaan (mapping). Dengan mapping kita tidak lagi merepresentasikan kemampuan individu seturut patok konsep tunggal,  melainkan memetakan ragam kecerdasan atau kemampuan individu. Asumsi pendasarannya adalah bahwa setiap individu punya profil unik terkait ragam kecerdasannya. Dengan demikian, terkikislah penonjolan tunggal ukuran lebih/ kurang yang rentan aroma politisasi, dan aspek pencarian melalui pemetaan mulai mencuat.
Konsep “multiple intellegences” itu sendiri membebaskan kita dari jebakan reduksian abstraktif. Karena setiap jenis kecerdasan memiliki “karakteristik” (aspek konstitutif dan determinasi-nya) sendiri-sendiri walaupun saling berhubungan dan berpengaruh satu sama lain. Pengenalan dan pengakuan pada ragam kecerdasan ini tentunya akan membuka “horison” atau “nilai” baru yang lebih mengutamakan unsur “titen”      ( perhatian atau empati) dalam keber-relasi-an antar umat manusia. Nilai-nilai seperti ini tentunya akan lebih mampu meredam dampak politisasi hasrat sosial yang kian meruyak, khususnya dalam era industri kreatif sekarang ini.


#multipleintelligences #soalsial #visiwaskita