Banyaknya
celoteh miring tentang jomblower di media sosial (baik yang berformat humor maupun yang sangat religius,
dari yang kocak hingga yang melecehkan) menggelitik saya untuk sekedar “urun rembug”.
Bagi
saya pribadi, status jomblower itu fakta kondisi hidup yang harus kita sikapi
dengan bijak, karena setiap “kasunyatan” memang harus “dihayati” dan
“diamalkan” setelah “dikaji” secara
seksama. Lepas dari berbagai lekatan
(atribusi) “duniawi” yang cenderung kian memperumit peta jalan yang sudah amat
“complicated” ini. Selain itu saya tak hendak menyoroti atau menilai kejombloan dari sudut-sudut
moralitas keagamaan sempit, karena saya tak sedang mendukung atau menolak
status kejombloan. Saya sekedar ingin melihatnya dari sudut pandang yang
berbeda, sudut pandang yang bersumber dari pencerahan konsep multi intelligences
alih-alih single intelligence. Pembacaan peta diri yang lebih holistis, majemuk
dan konkrit lawan patok abstraksi tunggal yang reduktif. *)
Bila
kita hanya berpatok pada cara baca tunggal selera massa, maka tak akan muncul
surat kabar Le Monde yang demikian
melegendaris di negeri asalnya (Perancis). Ketika sebagian besar media pekabaran
terbit sedini mungkin untuk mencapai keunggulan pemberitaan tercepat dan
teraktual, Le Monde justru memilih untuk menunda terbit hingga menjelang sore
hari. Dengan cara ini, Le Monde tak sekedar memberitakan kecamuk konflik
kekinian, tapi juga mengulas secara lebih unik. Keunikan ini dimungkinkan
karena Le Monde berhasil “mengintip”
tren masa depan (untuk lebih memberi nuansa penulisan berita aktualnya). **)
Jomblowers
Le Monde adalah jomblowers yang punya kepercayaan penuh pada apa yang
diisyaratkan melalui kata-kata emas psikoanalis Lacan, “ A letter always reaches its destination”. Dengan
kesabaran dan keyakinannya itu, ia menunda untuk dapat memetakan dirinya secara
lebih akurat dan memberikan hasil yang lebih cemerlang seturut kelemahan dan
keunggulannya. Dalam penundaan dan kebebasannya (yang tak dipengaruhi oleh unsur
eksternalitas apapun) ia akan mampu menemukan kebenaran dalam puncak kegagalannya.
Jomblowers Le Monde itu bak Bhisma di cerita pewayangan India. Ia yang dapat
menunda kematian sekehendak bebasnya….
Sikap jomblowers Le Monde pun dapat
dijadikan cermin bagi para politisi yang tenggelam dalam carut marut
kepentingan sesaat. Mereka yang sama sekali tak hendak membaca makna penundaan
akan kandas dalam ke-tidakrasionalitasan-nya sendiri. Mereka yang meradikalkan
kebenaran adalah budak-budak irasionalitasnya sendiri.
Lembaga-lembaga konsultasi perkawinan
pun sebaiknya mulai mencermati strategi ini.Tak hanya berkutat pada keutuhan
perkawinan, melainkan juga harus mempertimbangkan keutuhan atau keberhasilan
yang lebih cemerlang dari nasib kebersamaan mereka. Kebenaran dari kegagalan
perjalanan mereka, karena bagaimanapun kegagalan mengandaikan keberhasilan…. A
letter always reaches its destination” (Lacan).
(xi..xi..xi ..komentar saya buat
perindu jomblowers: Ratih Puspa)
#SOALSIAL #MULTI INTELLIGENCES #RATIHPUSPA
*)
Menurut sejarahnya, konsep single intelligence memang muncul dari ranah
kemiliteran atau kecendikiaan yang berpegang teguh pada sikap/keyakinan/asumsian
hirarkis, serba ketat dan serba tunggal. Masa kelahirannya pun adalah masa
dimana psikologi masih bersifat amat individualistis (masih belum tersentuh
oleh pendekatan social). Tujuan utamanya
adalah capaian kemenangan (penaklukan) dengan prioritas identifikasian faktor
tunggal penentu keunggulan ( dengan mengorbankan semua atribut liyan yang dalam
situasi itu diasumsikan sebagai hal kurang penting). Penerapan konsep single
intelligence tersebut ke ranah yang lebih luas, majemuk (publik) dan cair tentunya jadi tidak relevan
dan menimbulkan dampak politisasi yang luar biasa.