Dalam era “eksploitasi kognitif” ini, upaya untuk memenangkan “persaingan produk” tidak lagi cukup hanya dengan “eksploitasi hasrat individu” melainkan sudah menjarah hingga taraf “akumulasi hasrat sosial” (Matteo Pasquinelly, Prototypes of Conflict within Cognitive Capitalism, hal.1).
Demi pencapaian tujuan akumulasi tersebut, yang penting untuk dilakukan adalah pergeseran tekanan pada obyek analisis, dan juga pada pendekatan/disiplin-nya. Yang semula, eksploitasinya terpusat di ranah hasrat individual, dan lebih menonjolkan disiplin keperilakuan, karakteristik/ keunikan/ keunggulan perorangan yang ditopang oleh aspek keberilmuan; kemudian bergeser ke akumulai hasrat sosial yang lebih menonjolkan trik-trik imitasi, dan karakteristik/ keunikan/ keunggulan politisasi sosial. Singkatnya obyek dan strateginya kian cair. Dari yang lebih stabil ke yang lebih fluktuatif, dari yang serba singular ke yang serba multiple.
Terpaan politisasi hasrat sosial yang kian “menggila”, seturut persaingan yang kian sengit dalam hal “eksploitasi produk kognitif” (bahkan sampai pada perekayasaan “konflik sosial” demi capaian keterpikatan sosial sesaat) dengan cepat meng-usang-kan cara-cara atau keyakinan lama tentang berbagai ukuran prediksi kapabilitas seseorang. Celakanya, berbagai hasil pengukuran kapabilitas individu bahkan rentan untuk dijadikan semacam alat atau sarana politisasi (hasrat sosial) yang ampuh dan menindas alih-alih sebagai alat diagnostik yang memberdayakan.
Langkah penting pertama yang harus diambil
adalah mengubah konsep prediksi menjadi pemetaan (mapping). Dengan mapping kita
tidak lagi merepresentasikan kemampuan individu seturut patok konsep tunggal, melainkan memetakan ragam kecerdasan atau
kemampuan individu. Asumsi pendasarannya adalah bahwa setiap individu punya
profil unik terkait ragam kecerdasannya. Dengan demikian, terkikislah
penonjolan tunggal ukuran lebih/ kurang yang rentan aroma politisasi, dan aspek
pencarian melalui pemetaan mulai mencuat.
Konsep “multiple intellegences” itu sendiri
membebaskan kita dari jebakan reduksian abstraktif. Karena setiap jenis
kecerdasan memiliki “karakteristik” (aspek konstitutif dan determinasi-nya)
sendiri-sendiri walaupun saling berhubungan dan berpengaruh satu sama lain.
Pengenalan dan pengakuan pada ragam kecerdasan ini tentunya akan membuka
“horison” atau “nilai” baru yang lebih mengutamakan unsur “titen” ( perhatian
atau empati) dalam keber-relasi-an antar umat manusia. Nilai-nilai seperti ini
tentunya akan lebih mampu meredam dampak politisasi hasrat sosial yang kian
meruyak, khususnya dalam era industri kreatif sekarang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar