Minggu, 21 Desember 2014

Kecerdasan Majemuk dan Mata Pelajaran Sejarah

Mapel Sejarah sebagai salah satu Piranti strategis untuk Mengantar ke Pemahaman akan Ragam Perkembangan Kemampuan Manusia dalam Keberinteraksian dengan Dunia-nya ( ditinjau dari konsep Kecerdasan Majemuk) : keterkaitan historiografi dalam ranah susastra ( khususnya yang menyangkut metafiksi)
Proses perkembangan bahasa dan pemikiran yang relatif lebih panjang dan (nampak lebih) sukar/berat dari proses perkembangan penglihatan ( visual dan spasial) dan proses perkembangan gerak otot /sendi (kinestetik) yang mendahuluinya, mungkin menjadi satu alasan utama pengabaian kemampuan lain yang sifatnya non-kognitif dan non-verbal. Asumsi utama pendasarannya hanya berpatok pada proses perkembangan suatu modalitas alih-alih pada profil jejaring keterkaitan di antara proses perkembangan berbagai modalitas itu sendiri. Kesederhanaan pola pikir seperti ini sesuai dengan dominasian pola pikir linearitas tunggal, yang sudah harus kita tanggalkan. Sebagaimana kita sudah tegas-tegas mengamini kematian sejarah bervisi dominasian linear tunggal.
Proses perkembangan awal penglihatan (visual dan spasial), pendengaran (kecerdasan musik) dan olah gerak otot/sandi (kinestetik) tak banyak mendapat perhatian terkait kemungkinannya sebagai benih tumbuh kembang ragam kemampuan atau kecerdasan lain. Pengabaian pada proses ini juga disertai dengan terputusnya kemungkinan jejaring keterkaitan di antara berbagai proses perkembangan itu sendiri, sebagaimana proses perkembangan bahasa terkait erat dengan perkembangan pemikiran.
Konsep kecerdasan majemuk menjadi pintu ke ruang-ruang modalitas lain yang sifatnya tak lagi linear tunggal melainkan lebih bersifat sebaran majemuk. Sifat sebaran majemuk ini jadi terkesan “chaos” (kacau) bagi yang sudah terkondisi dengan konsep linear tunggal. Kekacauan itersebut muncul karena patok yang biasa diterapkan adalah dominasian hierarkis dan linear ke arah kebertuntasan. Patok itu sudah saat kita ganti dengan patok sebaran majemuk dan kreativitas (penciptaan) alih-alih linear tunggal kebertuntasan penguasaan. Persoalan yang paling kritis saat ini tidak lagi pada penguasaan semata melainkan pada kemampuan menciptakan pola-pola unik nan kreatif dari berbagai sumber yang ketersediaannya kian majemuk /beragam dan tersebar. Aspek seni (dalam arti luas) jadi kian mengemuka.
Seturut dengan semua itu, lalu apa relevansinya dengan masalah pelajaran sejarah?
Sebagaimana pergeseran paradigma seperti saya sebutkan di atas, sejarah pun mengalami nasib akhir tragis dalam visi linear tunggal yang dipatoknya. Kematian visi sejarah itu bukan berarti tamatnya sejarah, melainkan dimulainya cara pandang sejarah yang baru. Sejarah yang lebih mengamini berbagai sebaran peristiwa domestik. “Chaos” dalam sejarah pun harus ditangani melalui upaya yang lebih bersifat kebersenian /artistik /kreatif.
Dalam keragaman sumber ketersediaan yang kian melimpah, dan dalam tuntutan keartistikan itu lah, cara pandang dan konsep kecerdasan majemuk jadi berperan penting. Keilmiahan sejarah mungkin surut tapi pesan-pesan kesejarahan melalui karya seni (seperti novel) jadi kian mengemuka. Sejarah jadi alat strategis untuk mengembangkan berbagai kisah pengalaman keterlibatan manusia dalam dunianya. Sejarah tak lagi hanya bergumul pada persoalan kekuatan militer ataupun politik; melainkan juga berkisah tentang semua aspek domestik seperti upaya keras penciptaan lagu kebangsaan (dan lagu daerah), pergumulan tokoh yang setia dengan nasib hidup orang sekampungnya, peran dan perjuangan seorang guru olah raga, dll. Bahkan mimpi kita pada segala hal yang kita idolakan pun dapat disejarahkan.
Konsep kecerdasan majemuk jadi pintu peluang yang menantang bagi para pengajar pelajaran sejarah untuk lebih berfokus pada persoalan keseharian yang majemuk (multikompleks). Di sini koordinasi antara pengajar sejarah, dan tim bimbingan konseling serta dengan para pengajar lain menemukan kancahnya. Masalahnya, sudah siapkah kita menggeser cara pandang lama menuju revolusi mental kemajemukan?
“True, novelists don’t normally write about what’s
going on; they write about what’s not going on.
Yet the worlds so created aspire to pattern and
shape and moral point. A novel is a rational
undertaking; it is reason at play, perhaps, but it is
still reason.”
(Martin Amis, The Second Plane,
September 11: 2001-2007, p. 13.)
Tulisan ini terinspirasi dari semacam kumpulan bahan kuliah historiografi yang berjudul “The End of History in English Historiographic Metafiction”, Tesi di dottorato di ALICE MANDRICARDO n. matricola 955487.
#visiwaskita  #kecerdasanmajemuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar