Mapel
Sejarah sebagai salah satu Piranti strategis untuk Mengantar ke
Pemahaman akan Ragam Perkembangan Kemampuan Manusia dalam
Keberinteraksian dengan Dunia-nya ( ditinjau dari konsep Kecerdasan
Majemuk) : keterkaitan historiografi dalam ranah susastra ( khususnya
yang menyangkut metafiksi)
Proses
perkembangan bahasa dan pemikiran yang relatif lebih panjang dan
(nampak lebih) sukar/berat dari proses perkembangan penglihatan ( visual
dan spasial) dan proses perkembangan gerak otot /sendi (kinestetik)
yang mendahuluinya, mungkin
menjadi satu alasan utama pengabaian kemampuan lain yang sifatnya
non-kognitif dan non-verbal. Asumsi utama pendasarannya hanya berpatok
pada proses perkembangan suatu modalitas alih-alih pada profil jejaring
keterkaitan di antara proses perkembangan berbagai modalitas itu
sendiri. Kesederhanaan pola pikir seperti ini sesuai dengan dominasian
pola pikir linearitas tunggal, yang sudah harus kita tanggalkan.
Sebagaimana kita sudah tegas-tegas mengamini kematian sejarah bervisi
dominasian linear tunggal.
Proses perkembangan awal penglihatan (visual dan spasial), pendengaran (kecerdasan musik) dan
olah gerak otot/sandi (kinestetik) tak banyak mendapat perhatian
terkait kemungkinannya sebagai benih tumbuh kembang ragam kemampuan atau
kecerdasan lain. Pengabaian pada proses ini juga disertai dengan
terputusnya kemungkinan jejaring keterkaitan di antara berbagai proses
perkembangan itu sendiri, sebagaimana proses perkembangan bahasa terkait
erat dengan perkembangan pemikiran.
Konsep
kecerdasan majemuk menjadi pintu ke ruang-ruang modalitas lain yang
sifatnya tak lagi linear tunggal melainkan lebih bersifat sebaran
majemuk. Sifat sebaran majemuk ini jadi terkesan “chaos” (kacau) bagi
yang sudah terkondisi dengan konsep linear tunggal. Kekacauan itersebut
muncul karena patok yang biasa diterapkan adalah dominasian hierarkis
dan linear ke arah kebertuntasan. Patok itu sudah saat kita ganti dengan
patok sebaran majemuk dan kreativitas (penciptaan) alih-alih linear
tunggal kebertuntasan penguasaan. Persoalan yang paling kritis saat ini
tidak lagi pada penguasaan semata melainkan pada kemampuan menciptakan
pola-pola unik nan kreatif dari berbagai sumber yang ketersediaannya
kian majemuk /beragam dan tersebar. Aspek seni (dalam arti luas) jadi
kian mengemuka.
Seturut dengan semua itu, lalu apa relevansinya dengan masalah pelajaran sejarah?
Sebagaimana
pergeseran paradigma seperti saya sebutkan di atas, sejarah pun
mengalami nasib akhir tragis dalam visi linear tunggal yang dipatoknya.
Kematian visi sejarah itu bukan berarti tamatnya sejarah, melainkan
dimulainya cara pandang sejarah yang baru. Sejarah yang lebih mengamini
berbagai sebaran peristiwa domestik. “Chaos” dalam sejarah pun harus
ditangani melalui upaya yang lebih bersifat kebersenian /artistik
/kreatif.
Dalam
keragaman sumber ketersediaan yang kian melimpah, dan dalam tuntutan
keartistikan itu lah, cara pandang dan konsep kecerdasan majemuk jadi
berperan penting. Keilmiahan sejarah mungkin surut tapi pesan-pesan
kesejarahan melalui karya seni (seperti novel) jadi kian mengemuka.
Sejarah jadi alat strategis untuk mengembangkan berbagai kisah
pengalaman keterlibatan manusia dalam dunianya. Sejarah tak lagi hanya
bergumul pada persoalan kekuatan militer ataupun politik; melainkan juga
berkisah tentang semua aspek domestik seperti upaya keras penciptaan
lagu kebangsaan (dan lagu daerah), pergumulan tokoh yang setia dengan
nasib hidup orang sekampungnya, peran dan perjuangan seorang guru olah
raga, dll. Bahkan mimpi kita pada segala hal yang kita idolakan pun
dapat disejarahkan.
Konsep kecerdasan majemuk jadi pintu
peluang yang menantang bagi para pengajar pelajaran sejarah untuk lebih
berfokus pada persoalan keseharian yang majemuk (multikompleks). Di
sini koordinasi antara pengajar sejarah, dan
tim bimbingan konseling serta dengan para pengajar lain menemukan
kancahnya. Masalahnya, sudah siapkah kita menggeser cara pandang lama
menuju revolusi mental kemajemukan?
going on; they write about what’s not going on.
Yet the worlds so created aspire to pattern and
shape and moral point. A novel is a rational
undertaking; it is reason at play, perhaps, but it is
still reason.”
(Martin Amis, The Second Plane,
September 11: 2001-2007, p. 13.)
Tulisan ini terinspirasi dari semacam kumpulan
bahan kuliah historiografi yang berjudul “The End of History in English
Historiographic Metafiction”, Tesi di dottorato di ALICE MANDRICARDO n. matricola 955487.
#visiwaskita #kecerdasanmajemuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar