Paparan tentang kebisuan
yang sangat mengesankan terangkum dalam cerpen kompas minggu kali ini.
Penulisnya adalah Sdr. Mashdar Zainal dan berjudul Perempuan Yang Menjahit
Bibirnya Sendiri (Ref. nomor 3). Intisari ceritanya adalah penjabaran
peringatan "Mulutmu Harimaumu" terhadap seorang wanita yang sangat
cerewet. Akibat kecerewetannya itu ia merasa telah menjadi sumber atau akar
permasalahan dari kematian orang-orang terdekat yang dicintainya. Ayah, ibu,
dan adik perempuannya sendiri.Rasa bersalah yang demikian dalam mendorongnya
untuk menjahit mulut, namun dengan tindakannya itu, tanpa sadar ia telah
memagkas habis kemungkinan bagi si mulut untuk tersenyum....
Pesan yang saya tangkap dari kisah itu adalah bahwa
sang tokoh (perempuan cerewet),-karena rasa bersalahnya-,telah merancukan
sumber permasalahan dengan saluran atau media penyampaian. Sebagaimana orang
yang kesal,- setelah tokoh gamevirtual yang dipujanya ternyata kalah dalam
kancah pertandingan -, langsung mematikan kontak komputer dengan sumber listrik
alih-alih mematikan program gamenya terlebih dahulu. Kemampuan berpikir
kognitif secara jernih telah dilumpuhkan oleh rasa bersalah dalam hatinya
sendiri. Mekanisme konstruksi yang terlampau cepat mengeksekusi ( dari memori
kedukaan ke hati dan putusan tindakan secara kognitif yang tersamar ilusi
sesat) jamak terjadi pada orang-orang modern yang sudah kurang menghargai makna
kualitatif kebisuan ( persoalan ini terpapar dalam referensi nomor 1 dan
2).Dunia modern dengan dramatisasi ketunggalannya yang serba instant (kebenaran
tunggal, cara, penglihatan dan sumber tunggal) telah pula melahirkan
orang-orang berdimensi tunggal. Ketunggalan visinya telah menutup kemungkinan
ragam konstruksi. Ragam konstruksi yang seharusnya ditanamkan sejak dini (dari
ia dikandung) telah mati dini, saat modalitas kebahasaan dan atau pemikiran
jadi peliharaan mewah yang terkurung dalam sangkar emas spiritualitas
tunggal.Ia menangkap dan mencerna memori sebagaimana orang modern menangkap
dirinya dalam tokoh bintang simulasian
virtual yang sudah tak lagi merepresentasikan dunia riil.
Dalam catatan minggu yang berjudul Waktu, Bre Redana
menggambarkan simulasian virtual dunia modern yang telah menjadi gaya hidup
serba instant. Gaya hidup yang serba cepat dan cerewet yang memangkas habis
waktu kualitatif dari keheningan. Pola arus lintas konstruksi dorongan (drive)
dari persepsi ke verbal dan pemikiran membabat habis keragaman nilai kualitatif
yang terkandung dalam konstruksi keberjarakan (gap) dari paradigma
kebisuan.Lintas konstruksi cepat yang seharusnya hanya ada dalam situasi krisis
ini aplikasiannya telah tergeneralisasi dalam lintas linear ketunggalan ke
segenap ranah kehidupan...
Samuel Mulia dengan tulisan berjudul Berhitung (dalam
ruang Parodi) merekam cara kecerdasan jamak meng-interrelasi-kan antara
kemampuan berpikir logika matematika dengan kecerdasan intrapersonal dan
interpersonal. Intinya, si penulis ingin membuktikan bahwa antara kedua
modalitas berpikir itu (logika matematika dan inter/intra-personal) terdapat
diskrepansi (celah) "padat kabut penutup" yang dapat mengaburkan
(merancukan) sumber atau akar persoalannya. Sumber kediriannya hilang bersama
sebaran numerik asumsiannya...
#IISAVISIWASKITA #KECERDASANJAMAK #PARADIGMAKEBISUAN
1. Waktu,Catatan Minggu,
Bre Redana.
2. Berhitung, Parodi,
Samuel Mulia.
3. Perempuan Yang
Menjahit Bibirnya sendiri, Cerpen, Mashdar Zainal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar