(Menanggulangi Arus Besar
Radikalitas dan Hiperprovokasi ala Posmodern dengan Kewaskitaan yang bersumber
dari Kecerdasan Jamak - Psikologi Politik & Budaya untuk Kebhinekaan )
Paradigma kebisuan yang
saya maksudkan berarti pergeseran titik fokus perhatian dalam wacana
perkembangan manusia dari yang berfokus pada kancah (arena) kebahasaan (oral,
verbal) dan atau pemikiran (kognitif) menuju (wacana) keberfokusan pada kancah
(arena) fase perkembangan modalitas sebelum
perkembangan kedua modalitas tersebut, seperti modalitas kinestetik,
pendengaran (audio) dan penglihatan (visual).Dengan demikian, kata
"kebisuan" di sini selain memiliki arti harafiah umum yaitu tanpa
melalui pengungkapan secara verbal,juga mengandung makna yang lebih luas yaitu
kebisuan dalam menanggapi atau mewacanakan ketiga modalitas (pra-modalitas padu
kebahasaan dan atau pemikiran).
Ketiga modalitas tersebut
merupakan batu-bata fondasi bagi keutuhan kemanusiaan kita. Tanpa fondasi yang
kokoh,maka penguasaan kedua modalitas padu itu hanya akan memperparah
keterbelahan manusia (ref). Lebih jelasnya, pengabaian pada ketiga modalitas
tersebut mungkin dapat digambarkan seperti irama musik yang kehilangan tema dan
didengar tanpa antisipasian. Musik seindah apapun jadi terkesan tanpa roh atau
nyawa, sebaliknya dengan musik yang bertema kuat, selemah apapun keartistikan
musik tersebut akan dapat menggerakkan jiwa-jiwa pendengarnya. Biasanya, tema
yang kuat akan mendorong terciptanya keindahan tertentu dari musiknya.Freud
menjelaskan bahwa represi adalah kegagalan untuk menerjemahkan pelbagai mnemic
systems menjadi bentuk atau notasi. (1,h.73).Keterdekatan saya dengan tema
relijius Kristiani, mendorong saya untuk menduga-duga bahwa ketiga modalitas
manusiawi itu adalah batu bata yang kita sisihkan, yang ternyata merupakan
faktor pendasaran utama bagi realisasi utuh bangunan jiwa manusia.
Hal ini, setidaknya
menurut saya pribadi, berlaku pula untuk wahyu. Wahyu baru akan bermakna,
ketika si aktor penanggap itu sudah digenapi sebagai manusia yang berketuhanan
(atau menjadi anak-anak-Nya).Dan menurut pemahamanku, Perjanjian Baru itu lebih
menitik-beratkan kebertanggapan (penggenapan)-nya atas Perjanjian Lama bukan
pada aspek kewahyuan-Nya, melainkan lebih pada aspek sang aktor (manusia)
penanggapnya (Aku tak merubah atau menambahkan setitik pun pada yang telah
tertulis dalam Perjanjian Lama...). Baru pada
Perjanjian baru-lah, tanggapan manusia (aktor) yang telah menjiwai
(memiliki spirit) kebertuhanannya (para aktor yang telah menjadi anak-anak-Nya)
tergenapi (Aku dalam Tuhan dan Tuhan dalam aku...). Karena alasan inilah, Yesus
tidak menanggapi kesesatan pikir manusia yang masih terpatok pada cara berpikir
Perjanjian Lama dan menganggap-Nya sebagai raja pembebas (logika kuasa) saat Ia
menapaki jalan salib kebisuan-Nya (anti tesis harapan manusia Perjanjian Lama).
Untuk mensiarkan ajaran-Nya, Ia bahkan masih perlu membekali murid-murid
utamanya dengan berbagai berkat Roh Kudus (dengan kata lain "spirit
ketuhanan" alih-alih peneguhan wahyu kebahasaan) (dalam Kisah Para rasul),
dan memilih penerus utama-Nya (Rasul Petrus) untuk menjaga dan membimbing
domba-domba-Nya. Mengapa domba? Karena manusia seutuhnya yang tidak terjebak dalam
logika atau kemuliaan kuasa itu rentan untuk menjadi korban sembelihan (memikul
salib) yang disponsori/diprovokasi oleh manusia pemuja logika kuasa, dan bahasa
adalah salah satu modalitas yang rentan untuk terseret pada alur
keterbelahan/logika kuasa).Dengan demikian, dari awal kelahiran-Nya di kandang
domba, Yesus telah menubuatkan sendiri jalan salib-Nya.Haleluyah! (Ref)
Sejauh yang saya pahami,
ilmu psikologi khususnya, dan sains/filosofi sosial pada umumnya, kurang (bila
bahkan dapat dikatakan tak pernah) mewacanakan tentang konstruksian dan
tanggapan (respon) manusia pada ketiga modalitas tersebut.Informasi mengenai
ketiganya lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber kearifan peradaban kuno
(yang sebagian besar terpinggirkan oleh arus deras visi modernisasi).Dominasi
modalitas kebahasaan dan pemikiran dalam filsafat modern semakin meminggirkan
atau bahkan menghapus arti penting dari ketiga modalitas tersebut. Psikologi,karena
keterkaitan erat dan keterkungkungan-nya dengan sains,lebih banyak menitik
beratkan pada penelitian tentang perkembangan modalitas oral dan kognitif.
Dalam psikoanalisa dan psikosemiotika mulai terdeteksi gejala dan dampak
keterjebakan ini dalam bentuk dinamika ketaksadaran tak beraturan (psikonalisa
Freud) dan dalam bentuk ketaksadaran versi kebahasaan (Lacan) (Ref 1). Simbol-simbol
kebahasaan yang dianggap muwakil keberhasratan manusiawi itu kian
diteknikalisasi dan disimulasikan secara virtual sehingga keberjarakan manusia
dengan dunia riil-nya kian dalam (intens) dan luas (ekstensif) serentak kian
"lembut" (tak terasa).Illusi kebesaran dan kearogansian serta
keberunggulan kognitif dan atau kebahasaan kian mewabah dan mengancam kesatuan
umat manusia (Ref).
Agama-agama besar yang
mengklaim sebagai agama wahyu universal,
mungkin karena keterkungkungannya dalam ranah bahasa (atau
gagasan/pemikiran) dan konsep ketunggalan, serta lebih mengandalkan dan
menyandarkan klaimnya dengan "habit," hati, dan iman komunitas pada
laku keteladanan idealnya (dimana sosok ideal itu di era globalisasi informasi
ini kian terkikis dan tak terdukung), tanpa pernah menyentuh apalagi berupaya
memahami dan mengontruksi serta menanggapi keberhasratan jamak manusiawi
melalui wacana pra modalitas kebahasaan hanya akan menjadi alat pemecah belah
umat yang disebabkan oleh lingkaran setan kebahasaannya. (ref) Hal ini terkait
dengan kegagalan agama sebagai institusi untuk memberikan pemahaman dan
keteladanan yang lebih menyeluruh dan
mencerahkan pada masyarakat yang sudah atau bahkan kian tersesat virus
modernitas .Bila pembacaan agama sebagai institusi dianalogikan dengan upaya
pembacaan teks kuno, mungkin kutipan dari referensi berikut jadi cukup menarik.
A necessary prerequisite for contemporary interpretation of ancient
mythological literature is an appreciation of myth as a complex, multivalent
form of symbolic discourse that cannot be reduced to a particular form,
function, or mentality. (Sperber)
Kearifan sejumlah kecil
peradaban kuno yang mengapresiasi wacana modalitas kinestetik, pendengaran dan
penglihatan melalui kepekaannya pada berbagai isyarat kebertubuhan (tanpa
berbagai label kebahasaan yang membatasi pembacaan isyaratnya) dari sesama atau
dari hewan peliharaannya, dan kepekaan melalui berbagai macam pembacaan audio
visual pada setiap gejala alam dunianya (yang kian tersisih oleh visi
modernitas dan ajaran-ajaran radikal) akan memperlebar jarak konstruksian
imajinasi pemikiran dari berbagai penanda (ref). Keberjarakan yang lahir secara
alami (built-in) dan tidak bersifat eksternal kewahyuan ini mengandung dinamika psikis khusus yang tidak
tergantikan oleh metoda pendidikan secanggih apapun (ref).Karena dalam
pemaknaan (signifikasi) pada gesture, faktor konteks relatif lebih menonjol
daripada faktor konten.Sebaliknya,faktor kontenlah yang relatif lebih menonjol
dalam pemaknaan pada ucapan verbal (atau tulisan) (ref).Ungkapan superlatif
(keagungan) dalam konten tidak bermakna dalam kejamakan/keragaman konteks,
sedangkan ungkapan serupa (keagungan) dalam konteks meliputi/mencakup kejamakan
(ragam) ungkapan konten.(ref) Misal, keunggulan atau kesempurnaan pada satu
bidang tidak bermakna dalam situasi yang menuntut keragaman (keber-konteks-an),
namun keunggulan atau kesempurnaan memaknai/ membaca konteks meliput beragam
keunggulan konten. (ref)
"Symbolic interpretation in its native context, therefore, is not
simply the process of decoding or assigning cultural values to symbols; rather,
interpretation is a mental improvisation
based upon culturally implicit knowledge to explain the hidden, implied levels
of signification beyond a symbol's literal referent....Meaning is thus always
an interpretive rather than normative function " (ref Sperber).
Jarak seperti itu,-yang
pada komunitas orang bisu harus diperagakan-, dapat memunculkan visi baru
tentang dunia. Visi dunia yang serba jamak, tanpa perlu mengibarkan berbagai slogan
verbalisme tentang masyarakat plural. Pendidikan di era globalisasi yang lebih
menonjolkan kesegeraan (serba instant) dan memicu lomba kecemerlangan pemikiran
dan kefasihan serta kerunutan bicara secara tak disadari memangkas keberjarakan
seperti itu, keberjarakan yang akan menumbuhkan visi kejamakan yang senantiasa
menolak untuk dijadikan kebertunggalan karena keberjarakan tersebut menyangkut improvisasi mental. Dengan demikian
makna senantiasa merupakan fungsi interpretasian alih-alih fungsi normatif
(ref). Perkembangan harmonis keberpaduan lima modalitas ini dapat mengikis
sebagian besar kompleks hasrat kerinduan untuk kembali pada persatuan dengan
ibu. (ref)
Thus,the hermeneutical challenge to contemporary readers is to
apprehend ancient cultural codes and meanings as fully as possible, at the same
time that we appropriate the texts in
our own postmodern frames of referance. The best way to meet this challenge, in
my opinion, is to approach the text from a variety of critical perspectives and
to apply multiple forms of literary analysis.
(opiniku: sebagaimana
orang bisu mendekati sesamanya yang juga bisu, tak dpt mengandalkan sekedar
pada isyarat yang diberikan, tapi harus juga memperhitungkan ragam konteks dan
ragam persepsiannya sendiri terhadap isyarat tanggapan yang akan diberikan.
Ragam pendekatanlah yang teraplikasi dalam gambaran komunitas orang bisu).
Mungkin karena alasan
inilah, orang dari peradaban kuno lebih meyakini mitos alih-alih ajaran tunggal
kesempurnaan melalui kebahasaan...
This dynamic quality means that myths do not necessarily portray actual
social practise and ideology in an accurate fashion. Likened to a chameleon by
Wendy Doniger, myths have an uncanny aptitude for reinterpretation and
adaptation to new contexts because of
their inherently malleable character.
Salah satu alasan utama
maraknya radikalitas dan kerentanan manusia modern pada setiap hiperprovokasi
(istilah saya sendiri untuk berbagai provokasi virtual) adalah karena manusia
secara tak sadar kian dipaksa/memaksakan diri untuk menjadi makhluk berdimensi
tunggal yang sekedar menerima/meraih segala hal yang sudah harus
terkemas/terpaketkan secara utuh dan rapih, bahkan dalam hal segi
keberimanannyapun secara tak sadar menghasratkan keserbatuntasan penyelesaian segala persoalan secara cepat
(instant). (ref) Hal ini merupakan salah
satu cacat generik dari aspek kebahasaan dan atau kognitif. (ref) Segala hal
yang dianggap logis dan berterima secara nalar
belum tentu benar dari segi realitas kejamakan. Dan hal ini tak dapat
diajarkan di sekolah melalui metoda kognitif dan kebahasaan semata. Keteladanan
dan relasi yang intens dengan orang yang menjadi sumber keteladanan
(sebagaimana menjadi persyaratan dalam komunitas orang bisu yang jadi ungkap
pengandaian saya) serta pengembangan
kemampuan membaca konteks alih-alih sekedar konten mutlak diperlukan. Singkatnya, upaya konstruksi mental tak dapat
digantikan dengan sekedar perolehan informasi.
Following Paul Ricoeur, I understand symbols to be expressive as well
as referential forms ofsignification. Instead of merely referring to previously
established social meanings, symbols create the possibility of new meanings:
symbols "give rise thought," (Ref)
Berdasarkan alur
pemikiran di atas, maka pergeseran titik fokus ini sudah sangat mendesak dan
perlu segera dipertimbangkan mengingat puncak-puncak yang akan/mungkin dicapai
melalui kedua modalitas (kebahasaan dan pemikiran) tersebut telah memberikan
sinyal atau pesan kemungkinan kemaslahatan dan keterancaman terbesar yang
dikandungnya (inherent) bagi umat
manusia (ref).
Fase perkembangan dari
kedua modalitas padu (verbal dan kognitif) yang relatif jauh lebih lambat dari
ketiga fase modalitas yang mendahuluinya serta lompatan kapabilitas yang
dialami individu (seakan) menjadi patok peneguh klaim manusiawi untuk
mengabaikan arti penting fase perkembangan sebelumnya dan menjadikan kedua
modalitas tersebut sebagai fondasi utama pendidikan manusia selanjutnya (ref).
Mungkin masih banyak hal prinsip yang memerlukan penelitian psikologi lintas
budaya atau antropologi lebih lanjut terkait perbedaan dominasi wacana
modalitas kebahasaan ini. Hal paling
sederhana yang mungkin untuk segera diteliti adalah perbedaan sistem nilai,
cara berpikir (mind), representasi
mental orang yang merawat dan menyayangi hewan peliharaan dengan orang yang
tidak memelihara atau menyayangi hewan.
#visiwaskita #kecerdasanjamak #kebhinekaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar