Rencana
ke depan, setiap hari Senin saya akan coba menulis resume tanggapan
lepas dari beberapa wacana menarik yang terdapat dalam harian Kompas
Minggu seturut sudut pandang kecerdasan jamak yang saya pahami.
Mudah-mudahan resume tanggapan lepas ini akan semakin memperkaya dan
membumikan kasanah kecerdasan jamak yang kita geluti….
Tidakkah Guyub (tanggapan pada rujukan ke 2) lebih mendekati konsep “imagined communities”-nya Ben Anderson, dengan sedikit modifikasi alasan / argumen yang berbeda. Imagined
karena konsep ini lebih merupakan produk generalisasian gagasan
alih-alih hasil atau paparan kajian praksis atau kajian kancah. Dengan
demikian, meskipun konsep guyub ini bila ditinjau dari nilai-nilai ideal
kekerabatan cukup menonjol, tapi tetap tidak muwakil kondisi kancah
yang sebenarnya. Alhasil, konsep ini rentan untuk dijadikan alat politik
penguasa yang efektif. Bila mengutip istilahnya Badiou, cara seperti
ini tak lebih dari sekedar kedok (topeng) filsafat politik agar nampak
seperti filsafat moral (sosial) – istilah yang jauh lebih padat,
singkat, dan praktis dari beliau adalah ‘capitalo-parliamentarism‘ (produk kerjasama kekuatan modal dan aktor/representator politik). Agaknya, konsep pengikat sosial yang bersifat lebih aktif dan praktis akan lebih diperlukan, dan serentak lebih realistis.
Konsep sosial guyub ini sebangun dengan konsep individual dalam psikologi mainstream, yaitu neutrality, rationalism, individual enlightenment, scientific knowledge and adaptation and amelioration (Ian Parker). Konsep seperti ini rentan untuk menjadi bersifat ideologis karena sifatnya yang reduksionis dan asumsian keberutuhannya. Konsep
guyub juga rawan jadi sarang baru ragam tindak korupsi yang akan memicu
rangkaian dalam lingkaran setan yaitu revolusi (rujukan 1). Hal ini
karena konsep tersebut lebih menonjolkan tetapan hasrat ( kondisi ideal/
patok keutamaan nilai) sosial alih-alih realitas perubahan
kebermaterialan yang akan mencetuskan ragam wujud gejala tanggapannya.
Tetapan hasrat yang telah diandaikan itu rentan jadi kancah rekayasa
kepentingan pihak-pihak tertentu. Misalnya, gejala permukaan yang segera
mengemuka dari nilai guyub ini adalah patronisme.
Bukankah akan lebih sesuai bila konsep guyub digantikan dengan konsep
kooperasi (kerja sama). Konsep sosial kooperasi lebih muwakil karena
mengandung asumsian kerja dan kebersamaan yang lebih dinamis dan tidak
mengarah pada gagasan keberidentitasan. Konsep kooperasi juga cenderung
untuk dimaknai sebagai satu proses alih-alih sebagai kondisi final
terdamba. Di dalam konsep ini sudah terkandung makna keberadilan sosial,
keberadilan kerja dan ganjarannya, serta mengimplikasikan kejamakan
potensi manusia yang perlu saling melengkapi dalam kebersamaan dan
kerja.Konsep kecerdasan jamak saya kira akan lebih terdukung oleh konsep
yang terakhir ini (kooperasi).
Konsep koperasi sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Badiou, sebagai komposibilitas (composibility)
prosedur kebenaran kontemporer (mungkin ranah tambahan ke lima, yaitu
“kerja” yang punya asumsian perubahan, bila Badiou hanya mengakui empat
ranah yaitu seni, politik, sains, dan cinta) …. truth procedures
occur in four domains alone: art, politics, science and love. He then
assigns a central task to philosophy: it must think the compossibility
of contemporary truth proce dures in the four domains; that is, it must
construct a conceptual space which is such that it can accommodate the
diversity of the various truth procedures without being rendered
inconsistent: it must act as a kind of clearing house for truths.
Makna
kooperasi memang tidak seluas cakupan makna guyub, namun makna ini
lebih dinamis dan mendorong nilai kesetaraan karena samasekali tidak
mengimplikasikan makna keberjenjangan (konsep guyub lebih rentan
dikonotasikan dengan patronisme (implikasian dari keberhirarkian/
keberjenjangan). Perbedaan antara guyub dan kooperasi mungkin setipis
perbedaan antara tindak prososial dengan kemampuan empati (dalam
kecerdasan jamak sebagai kecerdasan interpersonal &/
intrapersonal,). Keduanya merupakan satu upaya atau usaha tapi yang
pertama lebih sarat nilai sedangkan yang kedua lebih netral. Kooperasi
belum tentu guyub, tapi guyub mengandaikan adanya kooperasi sebagaimnan
perilaku prososial mengandaikan kemampuan empati tapi kemampuan empati
belum tentu menjadi tindakan prososial.
Kecerdasan jamak itu mungkin dapat diungkapkan secara lebih singkat dan akurat (seturut cara pandang Badiou) sebagai ranah heterogen yang di/ter-kondisikan oleh “events” (pendobrakan tatanan kebenaran
yang berlaku). Untuk dapat memahami kejamakannya; maka langkah kritis
awal yang perlu di ambil adalah pembebasan visi kita sendiri dari
segenap dominasi tatanan /prosedur kebenaran yang berlaku. Tindakan
seorang warga Australia yang membela seorang muslim untuk tetap
mengenakan jilbabnya akibat kecemasan terhadap prasangka dan pelabelan
terrorisme setelah kejadian penyanderaan dan pembantaian di sebuah kafe
oleh salah seorang pendukung gerakan ISIS merupakan satu event yang
melahirkan pencerahan sosial (rujukan ke 3). Demikian pula sindiran
seorang pemandu penampil-diri pada hasrat penolakan diri seorang yang
merasa terlampau pendek, tiba-tiba dapat menjadi semacam pencerahan yang
menyadarkan. Itulah event
dalam pemahaman Badiou (menurut interpretasian saya,red). Surat seorang
putri pada sinterklas (dalam rujukan ke 5) akhirnya membawa pada suatu events yang menyingkapkan pencerahan dan kebenaran tak terduga.
Akhirnya, untuk dapat memahami secara tuntas konsep kecerdasan jamak, diperlukan berbagai events
yang merupakan tindakan bebas kita dari segenap bujuk dominasian
tunggal yang memang tidak ringan. Hal ini seturut analogi, bahwa untuk
memahami suatu kemampuan atau daya yang amat lemah dan rentan
(sebagaimana kemampuan atau kecerdasan khusus) kitapun harus
meningkatkan daya tangkap hingga ke berbagai faktor yang serinci dan
selemah mungkin. Proses perkembangan perabaan, pendengaran, dan
penglihatan jauh kurang diperhatikan daripada proses perkembangan bahasa
dan pemikiran sehingga pengaruhnya pun diabaikan. Hal ini wajar bila
kita penganut setia logika kekuasaan…
*)
Kata jamak , mulai saat ini dan seterusnya akan saya gunakan setelah
mendapatkan kritik (bagi saya pencerahan) dari Bpk. Dr. Edy Suhardono
terkait kerancuan penggunaan kata majemuk (yg mengimplikasikan
keberjenjangan) dengan kata jamak (tanpa implikasian keberjenjangan).
. ( Tanggapan atas beberapa artikel/esai di koran Kompas Minggu, 21 April 2014:
1. Korupsi dan Revolusi Sastrawi, esai, Naufil Istikhari KR
2. Mufakat Budaya dan Universalisme Guyub, udar rasa, Jean Couteau
3. Memutus Mata Rantai Kekerasan, solidaritas sosial, B Josie Susilo Hardianto
4. Rela, parodi, Samuel Mulia
5. Tenggat Waktu, cerpen, Djenar Maesa Ayu)
#visiwaskita #kecerdasanjamak #soalsial
Tidak ada komentar:
Posting Komentar