Senin, 22 Desember 2014

“Nietzsche is dead” Saat Dunia Kebisuan Menghadang Perenungan Eksistensial-nya....



(Intisari Pungkasan Mengenai “Multiple Intelligence” - edisi NY 2015) 

Seandainya guru sejarah dapat berkisah tanpa suaranya, maka siswa akan cepat paham pada makna kisah derita, para gadis keturunan minoritas, korban peristiwa 13 Mei 1998 di tengah kebisuan dan sikap dingin para aparat penegak hukum negeri ini (karena di luar dunia bahasa dan pemikiran, di luar dunia ucap dan gagasan terdapat dunia atau dimensi ragam intellegensi lain yang jauh lebih kaya dan cemerlang).

Seandainya para ulama dan pendeta dapat berkotbah melalui kebisuannya, mereka akan amat enggan berbaur apalagi berkecimpung dalam dunia politik praktis (gagasan membentuk satu negara agama atau bahkan jadi penguasa tunggal dunia jadi amat absurd untuk dunia bisu seperti ini...).

Seandainya para pendidik tak lagi hanya mengajar gagasan lewat bahasa.
Seandainya dunia pendidikan tak lagi menguji siswanya melalui ungkap bahasa bicara dan tulis.

Seandainya para orang-tua, para ahli ekonomi, para pejabat dan petugas negara, para wakil rakyat, para petinggi militer dan penegak hukum, para pendidik, para motivator, para ahli jiwa serta para pendaku sabda dan iman-Nya tiba-tiba tertimpa wabah bisu!

Maka,...
Perlahan mereka terpaksa mencermati makna gerak tubuh,
Perlahan mereka menyadari keagungan makna tatapan mata sesama,
Perlahan mereka mulai belajar mendengar, dan mengagungkan setiap kidung agung keguyuban (tanpa perlu membentuk komunitas atau gerakan keguyuban apapun!).
Perlahan mereka mulai belajar dan paham tentang dunia yang sama sekali baru...
Dunia keberjamakan dari ragam satuan remah-remah kecil, satuan yang lemah serentak maha penting, namun terburai lepas.

Dalam dunia kebisuan seperti ini, kebenaran terbesar dan teragung bukan lagi kemaha-tunggalan yang singgah di pikiran dan hati gentar masing-masing insan bisu.
Dalam dunia seperti ini, keagungan dan kebenaran atau tuhan ter-akbar adalah alam kebenaran jamak atau tuhan kejamakan dan keberbagian.
Mungkin tuhan ter-akbar mereka adalah tuhan yang jamak, sebagaimana sesama insan bisu memuja alam kejamakan, alam kebersilaturohiman...
Kebenaran atau tuhan ter-akbar singgah di hati saat mereka berhasil menjalin relasi keberterimaan di antara sesama insan bisu.
Itulah surga atau taman getsemani mereka.
Dunia dimana anak-anak,  benar dan sungguh diperanakan oleh Tuhannya.
Kebesaran singgasana tunggal kebertuhanan sungguh absurd bagi sesama insan bisu dan dunianya.

Dunia bisu peng-agung “kewaskitaan” akan mengandalkan keber-”titen”-an (keberpekaan rasa dan tanggap) alih-alih ketajaman lidah atau pikiran.
Dunia yang memaksa para pelajarnya untuk mengutamakan kesabaran, kepekaan rasa dan tanggap alih-alih kecepatan dan ketajaman ungkap bahasa atau gagasan.
Dunia yang amat menghargai tindak kebersenian dan keindahan alam alih-alih kepiawaian ber-teknologi atau perekayasaan.
Dunia kebisuan ini adalah dunia keheningan tindak yang mencerahkan apresiasi cipta jamak keindahan alami, alih-alih keheningan refleksi pikir keberuniversalan atau keberteknologian.

Dunia yang selalu mendorong para pelajarnya untuk mengamati dan meresapi apapun. Bahkan mengamati dan meresapi gairah seksualitasnya sendiri tanpa perlu cemas dan takut akan label atau hujatan porno sekalipun.

Dunia yang memaksa pria dan wanita untuk jujur dan bersungguh dalam mendapatkan (bukan menemukan) “soulmate”-nya (karena tak mudah dan akan sangat melelahkan serta menguras banyak waktu dan tenaga untuk membagi perhatian istimewa secara adil pada lebih dari satu orang).

Dunia tanpa pandang hujatan bagi segenap cacat atau kelebihan sesama insani bisu (homoseks, gay, lesbianisme). Karena cacat tersandang di diri sendiri telah menjadi pelajaran berharga bagi mereka untuk tidak secara murahan menghujat.

Dunia yang warganya selalu berpikir ulang 1000 kali ulangan untuk bermimpi jadi pebisnis yang sekedar mengejar keuntungan materi.
Bukan karena alasan menghindar dari kerja, melainkan karena nilai-nilai keguyuban yang terlanjur basah mereka puja...

Dunia yang tak lagi memerlukan aparat militer, karena setiap insan senantiasa telah, sedang dan akan meniti momen-momen pertempuran hidup mati berkali-kali melawan egonya sendiri untuk dapat berterima dalam tatapan tuhan kebersilaturahiman atau tuhan kejamakan-nya.
Neraka paling jahanam dan mengerikan bagi setiap insan bisu di dunia ini adalah neraka keterkucilan (Sungguh celaka 12 kali 12, bagi si bisu yang dikucilkan...).
Mereka lebih suka menghadang pintu kematian daripada pintu keterkucilan...

Dunia yang disuburkan oleh iman yang sabar dalam kebisuan penuh perhatian dan keteladanan tindak diri, alih-alih iman keberkitaban yang sok tau dan cerewet. Mungkin pula, ini jadi dunia yang tidak memerlukan adanya para nabi atau tuhan sekalipun (Karena di dunia seperti ini, tuhan beserta sabda-Nya telah menyatu padu dalam alam keberjamakan atau kebersilaturohiman dan terungkap dalam peka-rasa, peka-tanggap dan kebertitenan).
Dalam dunia seperti ini, hanya orang gila yang masih berpikir apalagi mensiarkan tentang segenap ketunggalan atau esa kemahaan dari pintu ke pintu...

Dunia yang para politikusnya amat santun berkampanye (tanpa yel-2 atau gaung suara provokator).
Dunia yang memaksa para pemimpin pemerintah untuk kian tergila-gila dengan kebijakan blusukan ala Jokowi (karena dalam dunia seperti ini hanya orang dungu yang masih memiliki praduga sangka bahwa blusukan itu sekedar pencitraan).

Dunia yang tidak dipolusikan oleh kecerewetan media sosial, dan dunia yang masyarakatnya tak perlu gerakan guyub apapun, karena tanpa keguyuban, mereka pasti gagal dalam setiap keberelasian/kebersilaturohiman yang didamba dan dipuja.

Dunia yang tidak mengenal label lacur, bodoh, pintar, santun/saleh bahasa, runut, logis, alim, murtad, penghujat dan lain-lain label pembusuk atau pengagung jiwa perinsanian. Dunia yang bukan tanah subur bagi para pencemburu dari jenis atau kaliber apapun (dari pencemburu ideologi, pencemburu kelompok kepentingan politik hingga pencemburu kelamin, karena di dunia seperti ini pencemburu sama dengan orang gila yang terobsesi untuk kerja rodi).

Dunia yang tak membutuhkan satupun ahli jiwa, karena satu-satunya terapi handal yang memenuhi kehausan mereka akan keberelasian/kebersilaturohiman sudah mereka kuasai sendiri.

Akhirnya, aku tercenung dan bertanya-tanya...
Betapa tahta agung keberbahasaan dan kebercemerlangan gagasan yang memunculkan Tuhan kecerdasan tunggal (beserta segenap implikasian positif maupun negatifnya)  telah menyesatkan banyak jiwa-jiwa modern yang tak lagi sempat membayangkan atau memikirkan dunia kebisuannya.

Mungkin dunia seperti ini yang jadi cita-cita pencerah spirit para pioner pejuang negeri Nuswantara-ku. Semangat kebisuan dalam dunia kebermelekan aksara dan kefasihan cakap.
Semangat dan roh yang kuimpi-impikan akan menuntun segenap hidup anak turunanku (…, dan Nietsczhe pun menghembuskan nafas terakhir dalam keterguncangan dan ketersudutan visi “ketajaman bahasanya” sendiri, pada saat yang diyakininya sebagai momen atau detik-detik kelahiran Yesus. Tentu saja ini terjadi dalam arus deras keterguncangan jiwanya. Wallahualam!)

Selamat Natal dan Tahun Baru 2015.
Gloria in excelsis Deo...
Ia yang pada akhirnya memilih kebisuan jalan salib-Nya. GBU !

#iisavisiwaskita   #kecerdasanjamak  #kebersilaturohimaninsani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar